Ibu, Bapak, dan Alasan Bangun Pagiku
Bu, kalau dunia enggak baik sama Aku, Ibu akan tetap baik kan?
Pak, kalau Aku gagal jadi hebat seperti Bapak, apa aku akan tetap jadi anak Bapak?
Bu, Pak, maaf Aku tidak di rumah. Maaf atas semua hal-hal kurang baik yang tidak kalian hadapi bersamaku. Maaf Aku pergi naik pesawat lebih dulu. Maaf Aku pernah bilang Aku tidak suka di rumah. Maaf jika Aku berjalan terlalu jauh.
Bu, Pak, Terima kasih sudah merelakan Aku pergi jauh dari rumah untuk melihat dunia. Ternyata seperti ini ya, dunia yang sudah kalian kenal lama itu, yang selalu jadi dongeng sebelum tidurku dulu.
Bu, Pak, Aku di sini baik-baik saja. Jangan khawatir terlalu banyak. Aku akan tetap kuat. Bahkan akan selalu berusaha kuat. Walau mungkin tak pernah sekuat kalian, tapi tetap akan ku usahakan.
Mungkin alasan bangun pagiku dulu, karena suara Ibu dan Bapak yang mengaji di ruang tengah selepas solat subuh. Atau bau masakan Ibu dan suara kartun kesukaanku dari televisi yang Bapak nyalakan untuk membuatku keluar kamar. Tapi di sini, rasa ingin berterima kasih itu yang membangunkanku setiap harinya. Kalau-kalau rasa malas datang, semoga selalu kalah dengan rasa terima kasih yang mungkin tidak akan pernah cukup itu.
Bu, Pak, Tuhan baik sekali, ya. Tuhan baik sekali sudah memperkenalkan Aku dengan dua manusia hebat di bumi seperti kalian.
Bu, Pak, hidup yang lama dan bahagia ya, yang lebih lama dan lebih bahagia dari Aku. Karena kalau bukan doa-doa kalian yang membuatku bertahan, bagaimana Aku hidup? Jadi, hiduplah lebih lama dan lebih bahagia dari siapa pun di bumi.
Bu, Pak, tetap di sana ya, tunggu Aku. Tunggu Aku gapai semua cita-citaku yang kadang terdengar jauh dari kata sederhana itu. Tunggu Aku bawakan harapan-harapan kalian yang sedang Aku usahakan.
Islamabad, 23 September 2023
Pak, kalau Aku gagal jadi hebat seperti Bapak, apa aku akan tetap jadi anak Bapak?
Bu, Pak, maaf Aku tidak di rumah. Maaf atas semua hal-hal kurang baik yang tidak kalian hadapi bersamaku. Maaf Aku pergi naik pesawat lebih dulu. Maaf Aku pernah bilang Aku tidak suka di rumah. Maaf jika Aku berjalan terlalu jauh.
Bu, Pak, Terima kasih sudah merelakan Aku pergi jauh dari rumah untuk melihat dunia. Ternyata seperti ini ya, dunia yang sudah kalian kenal lama itu, yang selalu jadi dongeng sebelum tidurku dulu.
Bu, Pak, Aku di sini baik-baik saja. Jangan khawatir terlalu banyak. Aku akan tetap kuat. Bahkan akan selalu berusaha kuat. Walau mungkin tak pernah sekuat kalian, tapi tetap akan ku usahakan.
Mungkin alasan bangun pagiku dulu, karena suara Ibu dan Bapak yang mengaji di ruang tengah selepas solat subuh. Atau bau masakan Ibu dan suara kartun kesukaanku dari televisi yang Bapak nyalakan untuk membuatku keluar kamar. Tapi di sini, rasa ingin berterima kasih itu yang membangunkanku setiap harinya. Kalau-kalau rasa malas datang, semoga selalu kalah dengan rasa terima kasih yang mungkin tidak akan pernah cukup itu.
Bu, Pak, Tuhan baik sekali, ya. Tuhan baik sekali sudah memperkenalkan Aku dengan dua manusia hebat di bumi seperti kalian.
Bu, Pak, hidup yang lama dan bahagia ya, yang lebih lama dan lebih bahagia dari Aku. Karena kalau bukan doa-doa kalian yang membuatku bertahan, bagaimana Aku hidup? Jadi, hiduplah lebih lama dan lebih bahagia dari siapa pun di bumi.
Bu, Pak, tetap di sana ya, tunggu Aku. Tunggu Aku gapai semua cita-citaku yang kadang terdengar jauh dari kata sederhana itu. Tunggu Aku bawakan harapan-harapan kalian yang sedang Aku usahakan.
Islamabad, 23 September 2023
Komentar
Posting Komentar