Hanya Pikiran Tak Berjudul
Hingar-bingar isi kepala bergemuruh.
Hiruk-pikuk pikiran yang berulang bagai lagu favoritmu.
Kita mau kemana?
Tanyaku ketika Ia menarik tanganku sambil berlari kencang.
Aku tetap berlari meski tak tahu arah yang kami tuju.
Sebentar lagi akan sampai.
Jawabnya berulang seraya kuulang tanya yang sama.
Kau lelah?
Siapa yang tidak lelah jika dipaksa berlari?
Istirahatlah.
Kita hanya berputar, kita adalah bumi.
'Sebentar' itu ambigu, kau boleh pahami sesukamu.
Sebenarnya, apa yang kita kejar?
Jika tak tahu arah, kemana tuju yang sebenarnya?
Jangan kau bandingkan lelahmu dengan mereka.
Rasa lelah bukan perbandingan.
Lelah itu isyarat, kalau manusia juga butuh istirahat.
"Kita bisa selama masih ada rumah untuk pulang dan memulai segalanya."
Aku hendak memahami kata 'rumah' dalam kalimat itu.
Tapi aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana bentuknya.
Apa manusia bisa jadi rumah?
Tapi, kata mereka, rumah dan manusia itu dua hal yang berbeda.
Rumah itu statis, manusia itu dinamis.
Jadi, kita hidup nomaden saja.
Tapi aku tetap tidak tahu caranya.
Islamabad, 13 September 2023
Komentar
Posting Komentar